Rabu, 12 Juni 2013

Latihan Soal Anti Monopoli (Softskill)



1.      Undang – undang nomor berapakah mengenai Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat?
A.     UUD No. 3 Tahun 1998
B.     UUD No. 5 Tahun 1999
C.     UUD No. 5 Tahun 1998
D.     UUD No. 3 Tahun 1999

2.      Apakah kepanjangan dari KPPU?
A.     Komisi Pengawasan Persaingan Usaha
B.     Komisi Penilaian Persaingan Usaha
C.     Komisi Pemilihan Persaingan Usaha
D.     Komisi Pengontrolan Persaingan Usaha\

3.      KPPU yang sekarang ini dibentuk berdasarkan?
A.     Keputusan DPR No. 75 Tahun 1995
B.     Keputusan Menteri No. 75 Tahun 1999
C.     Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 75 Tahun 1999
D.     Keputusan Wakil Presiden Republik Indonesia No. 75 Tahun 1998

4.      KPPU melaporkan hasil kerjanya kepada?
A.     DPR dan MPR
B.     DPD dan DPR
C.     Presiden dan Menteri
D.     DPR dan Presiden

5.      Kewenangan KPPU diatur di dalam?
A.     Pasal 35 UU No. 5
B.     Pasal 34 UU No. 5
C.     Pasal 36 UU No. 5
D.     Pasal 37 UU No. 5

6.      Sebutkan dua karakteristik barang publik murni?
A.     Nonrival dan Excludable
B.     Nonrival dan Nonexcludable
C.     Rival dan Excludable
D.     Rival dan Nonexcludable

7.      Dibawah ini yang termasuk barang campuran (mixed goods) adalah?
A.     Sebagian barang atau pelayanan sektor pendidikan
B.     Sebagian barang atau pelayanan sektor ekonomi
C.     Sebagian barang atau pelayanan sektor umum
D.     Sebagian barang atau pelayanan sektor kesehatan



8.      Sebutkan sifat barang swasta (private goods)?
A.     Rival dan Exhaustible
B.     Nonrival dan Nonexhaustible
C.     Rival dan Nonrival
D.     Exhaustible dan Nonexhaustible

9.      Campur tangan pemerintah dapat dibenarkan dalam penyediaan barang publik yaitu?
A.     Informasi dan Distribusi
B.     Noninformasi dan Distribusi
C.     Informasi dan Redistribusi
D.     Noninformasi dan Redistribusi

10.   Dalam ekonomi campuran pemerintah memberikan perannya dalam bentuk?
A.     Bantuan Langsung Tunai
B.     Bantuan Rakyat Miskin
C.     Askes
D.     Subsidi
Jawaban : BACDC BDACD

Senin, 10 Juni 2013

Agar Ayam Tidak Mati Di Lumbung Padi…

Amartya Kumar Sen adalah ekonom India yang memperoleh hadiah Nobel ekonomi pada tahun 1998.  Dia terkenal akan pemikiran-pemikirannya yang terkait dengan penyebab kelaparan di dunia. Menurutnya kelaparan bukanlah disebabkan oleh kelangkaan pangan, kelaparan bisa terjadi bahkan pada saat panenan  bagus. Jadi apa penyebab utama kelaparan ?

Menurutnya kelaparan adalah produk dari rendahnya atau ketiadaan daya beli.  Ilustrasi disamping menjelaskan hal ini. Mayoritas keluarga bekerja dan dibayar dengan gaji atau upah atas kerjanya. Dari waktu ke waktu upah berubah demikian pula dengan harga-harga barang khususnya makanan.

Bila pergerakan perubahan harga  makanan lebih tinggi dari pergerakan upah, maka lama kelamaan upah kebanyakan pekerja tidak lagi cukup untuk membayar makanan yang dibutuhkan para pekerja tersebut beserta keluarganya. Saat itulah kelaparan terjadi, meskipun tidak ada masalah di tingkat produksi bahan pangan sekalipun.

Teori ini dapat untuk menjelaskan mengapa sekitar 1 milyar orang di dunia  - atau sekitar 14 % dari 7 milyar penduduk dunia saat ini dalam kondisi kelaparan, meskipun produksi pangan dunia saat ini cukup untuk menghidupi dua kali penduduk bumi. Lihat data FAO dlsb. yang saya sajikan di tulisan tanggal 26 Maret 2013 lalu.

Karena kelaparan lebih disebabkan oleh masalah distribusi atau daya beli ketimbang produksi, maka solusi yang sangat efektif dalam mengatasi kelaparan adalah dengan mengangkat daya beli ini. Daya beli masyarakat bisa diangkat manakala tersedia pekerjaan cukup di masyarakat.

Bukan hanya masalah pekerjaan cukup, upah pekerja juga harus cukup untuk membeli kebutuhan pokok khususnya makanan. Tetapi perusahaan-perusahaan tidak akan bisa menjaga gaji yang cukup bagi para pekerjanya , bila perusahaan tidak tumbuh sementara kebutuhan pekerja tumbuh – jadi perusahaan-perusahaan juga harus bisa tumbuh berkelanjutan agar bisa terus memberi gaji yang cukup juga secara berkelanjutan bagi para pekerjanya.

Dengan pemetaan seperti ini mestinya para pekerja dan para pemberi kerja (perusahaan) adalah ibarat dua orang yang berada pada satu perahu karet. Keduanya harus mendayung kearah yang sama agar keduanya bisa selamat, keduanya mesti bekerja sama fokus menjaga agar perusahaan bisa tumbuh berkelanjutan sehingga mampu menjaga tingkat upah yang cukup untuk menjaga daya beli para pekerjanya.

Secara nasional, seluruh pihak juga harus fokus meningkatkan produksi atau pertumbuhan ekonomi, agar tersedia pekerjaan yang cukup dan dengan tingkat penghasilan para pekerja yang juga cukup.

Karena produk nasional atau yang disebut GDP itu adalah GDP = C (belanja konsumen) + I (investasi)+ G(belanja pemerintah)+ X (Ekspor) – I (impor) ; kita bisa melihat bahwa konsumsi barang-barang impor akan menurunkan GDP kita.

Ketika GDP kita turun, maka peluang kerja kita turun, daya beli kita juga otomatis turun. Ketika daya beli kita turun, bisa jadi bahan makanan (impor) melimpah sekalipun - banyak penduduk kelaparan karena ketidak mampuan membeli bahan makanan yang ada.

Teori dan penalaran yang nampaknya sederhana ini, sesungguhnya bisa membawa perubahan besar pada upaya-upaya pencegahan kelaparan dunia. Bahwa produksi pangan dunia bukan hanya harus dijaga kecukupannya, tetapi juga semaksimal mungkin diproduksi sendiri oleh masyarakat setempat. Kegiatan produksi yang seperti ini menghasilkan dua hal sekaligus yaitu produksi pangannya sendiri dan produksi daya beli masyarakat yang membutuhkannya - masyarakat yang memiliki pekerjaan adalah masyarakat yang memiliki daya beli.

Dari ilustrasi dan formula tersebut di atas, mestinya kita bisa sangat fokus kini untuk mencegah kelaparan di negeri ini. Kita harus mengurangi produk-produk impor khususnya yang bisa kita produksi di dalam negeri. Kita harus fokus pada peningkatan produksi dalam negeri agar pekerjaan kita atau daya beli kita terjaga. Agar bahan pangan tetap terus terjangkau oleh rakyat negeri yang subur hijau royo-royo ini, agar ayam tidak mati di lumbung padi….!

Oleh : Muhaimin Iqbal  
sumber :http://www.geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/86-gd-articles/ekonomi-makro/1222-agar-ayam-tidak-mati-di-lumbung-padi

Beijing Yang Mengambil Tempe Dari Piring Kita…

Bila akhir-akhir ini lauk-pauk khas tempe mulai jarang muncul di meja makan Anda, jangan salahkan istri Anda untuk ini. Jangan salahkan pemerintah karena bisa jadi bukan salah mereka juga, tapi amannya salahkanlah Beijing atas kelangkaan dan ketidak terjangkauan tempe ini. Salahkan Beijing yang telah menyedot sekitar 60% kedelai dari pasar dunia, untuk konsumsi rakyat dan ternak mereka.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih di angka 7.8 %, jauh di atas kita yang 6.0% - ditambah penduduknya yang 5.8 kali lebih banyak dari kita – China memang jauh lebih perkasa dari kita dalam menyedot kedelai dunia untuk rakyat dan ternak mereka. Walhasil ketika komoditi kedelai ini diperebutkan di pasar, demand selalu siap menyedot berapa saja supply kedelai dunia – maka harga pasti melonjak.

Menurut data resminya pemerintah melalui  Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian - Kementerian Pertanian, sepanjang tahun lalu (Januari- Nov) kedelai hanya naik 13%. Namun menurut Kompas (15/10/12), sampai oktober saja harga kedelai sudah naik 25.25%. Mana yang benar ? istri Anda dan para produsen tempe mungkin lebih tahu realitanya.

Kabar buruk berikutnya adalah bahwa kemahalan dan ketidak terjangkauan kedelai sebagai bahan baku tempe ini nampaknya masih akan terus berlanjut. Penyebabnya adalah kebijakan Beijing yang sama dengan kita – tidak mampu memenuhi kebutuhan kedelainya. Bila kita impor sekitar 70% kebutuhan kedelai kita, China mengimpor sekitar 80 % dari kebutuhan kedelainya.


Sampai sekitar 20 tahun lalu kebutuhan kedelai 14 juta ton mereka dapat dicukupi dengan produksi dalam negeri. Namun seiring dengan pertumbuhan ekonominya, kini China yang membutuhkan sekitar 70 juta ton kedelai per tahun – sementara produksinya relatif tetap –mereka harus mengimpor 56 juta ton-nya dari pasar internasional. Inilah yang kemudian menjadi pesaing kita yang sangat kuat dalam memperebutkan ketersediaan kedelai ini.

Lebih jauh kebutuhan kedelai yang meningkat tajam dari China ini juga mengancam supply pangan dunia secara keseluruhan. Mengapa demikian ? perhatikan pada grafik di bawah. Dalam setengah abad terakhir tanah untuk produksi gandum relatif tidak bertambah, tanah untuk produksi jagung sedikit bertambah sedangkan tanah untuk produksi kedelai melonjak tajam.

Saat ini peningkatan kebutuhan kedelai China itu sudah bukan hanya membahayakan ketersediaan bahan pangan dunia saja, tetapi juga sudah sampai titik membahayakan iklim global. Exportir utama kedelai dunia seperti Amerika sudah pada tingkat tidak bisa menambah lagi lahan kedelai tanpa harus mengorbankan lahan untuk komoditi lainnya seperti jagung dan gandum. Brasil tidak bisa lagi menambah lahan kedelai tanpa harus mengorbankan hutan Amazon mereka.

Lantas apa artinya semua ini bagi kita ?, yang jelas kedelai tidak akan kembali murah – itupun kalau masih ada yang bisa kita impor. Kedelai produksi dalam negeri hanya mencukupi sekitar 30% dari yang kita butuhkan selama ini.

Jadi ibu-ibu di rumah harus mulai berfikir menu pengganti tempe, tahu dan sejenisnya yang berbahan baku kedelai. Masalahnya adalah makanan sekelas tempe terlanjur mendarah daging di sebagian besar penduduk negeri ini, pertama karena rasanya enak dan kedua (dahulunya) sumber protein yang relatif terjangkau.

Mau diganti apa kedelai ini ?, mau diganti daging harganya sudah keburu naik lebih tinggi ketimbang kedelai. Ketika data resmi pemerintah mengungkapkan kenaikan harga kedelai 13% tersebut di atas, harga daging naiknya 14 %. Lagi-lagi istri Anda di rumah lebih tahu realitanya.

Masalah kedelai ini bukan masalah sepele bagi kita rakyat negeri ini dan keturunan kita. Ketika sumber protein yang dahulunya relatif terjangkau ini – kini menjadi tidak lagi terjangkau, maka akan terjadi degradasi gizi pada generasi kini dan nanti. Ketika gizi rata-rata itu menurun, kwalitas fisik dan intelektual kita juga menurun – inilah bahaya yang harus dihindarkan selanjutnya.

Maka apa yang seharusnya mulai kita lakukan dengan serius ?, bangsa ini ibarat sebuah keluarga besar yang gemar berpesta. Dari waktu – ke waktu kita berpesta sehingga seolah tiada hari tanpa pesta ini – silahkan baca di media. Beritanya adalah pilkada ini, pilkada itu – persiapan pemilu ini dan itu, heboh partai ini dan itu – begitu seterusnya yang semuanya berujung pada urusan pesta (demokrasi !).

Karena semuanya sedang menikmati kemeriahan pesta – sampai-sampai lupa bahwa dalam urusan pesta-pun harus ada yang menyiapkan makanannya, agar semua tamu mendapatkan jatah makanannya secara cukup. Harus ada koki yang memasaknya agar menu makanannya lezat, dan setelah itu harus ada yang mencuci piring-piringnya.

Ibarat pengamat dalam pesta tersebut, saya amati lho kok yang harusnya masak (departemen yang mengurusi pangan) ikut  berpesta, yang seharusnya mencuci piring (penegakan hukum) ikut berpesta, yang seharusnya melayani tamu (eksekutif) ikut berpesta dan semuanya tumpleg bleg dalam kemeriahan pesta. Lantas siapa yang masak ? siapa yang mencuci piring ? siapa yang melayani tamu-tamu ?

Di tengah kemeriahan pesta yang seolah tidak akan berakhir ini, sebagian kita baru sadar bahwa eh ternyata tidak ada lagi koki yang masak, tidak ada lagi yang bekerja mencuci piring dan tidak ada lagi yang melayani tamu-tamunya.

Bisa dibayangkan kemudian apa yang bisa terjadi ? AEC (ASEAN Economics Community) yang siap mengambil pekerjaan dan usaha kita kini sudah di depan mata. Dan bahkan Beijing sudah lebih dahulu mengambil tahu dan tempe dari piring-piring kita. Bahwa pesta mestinya sudah harus berakhir, waktunya bekerja keras menghadapi realita hidup yang tidak semuanya Indah. :( 


Oleh : Muhaimin Iqbal  
sumber : http://www.geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/84-gd-articles/umum/1244-beijing-yang-mengambil-tempe-dari-piring-kita

Senin, 27 Mei 2013

Solusi Dengan Berbagi…

Beberapa bulan lalu saya menawarkan solusi untuk mengatasi dua masalah terbesar Jakarta yaitu banjir dan kemacetan. Solusi dengan konsep ta’awun atau tolong menolong itu salah satunya bener-bener mulai kita tindak lanjuti dengan serius. Project berbasis teknologi mobile untuk berbagi telah kami kembangkan dan kini siap di uji-coba-kan. Teknologinya sendiri mungkin sederhana, tetapi bila dengan perantaraan teknologi ini masyarakat Jakarta menjadi gemar berbagi – maka itulah solusi yang sesungguhnya bagi problem-problem yang selama ini belum teratasi.

Bayangkan sekarang situasinya. Anda sekarang pergi dan pulang kerja searah dengan ribuan orang lainnya – yang sangat bisa jadi sebagiannya searah dengan Anda, tetangga Anda, sekantor dengan Anda, segedung dengan Anda, dlsb.dlsb. Dari Cibubur misalnya, ada puluhan ribu kendaraan menuju Jakarta setiap pagi dan sejumlah kendaraan yang sama sore harinya pulang balik dari Jakarta.

Demikian pula dari Bogor, Bekasi, Tangerang, Serpong, Banten dlsb. Masing-masing membayar bensinnya sendiri, bahkan masing-masing sebagiannya disubsidi oleh pemerintah. Pendek kata gara-gara kita menggunakan kendaraan sendiri-sendiri inilah segala problem itu muncul. Mulai dari biaya hidup yang mahal, kemacetan, subsidi pemerintah yang tidak terbendung, polusi udara yang semakin buruk dst.

Maka solusi dengan berbagi itu menjadi ideal. Satu solusi yang bisa mengatasi sejumlah masalah sekaligus, mulai dari biaya hidup sampai kemacetan , subsidi dan polusi. Tetapi dengan siapa kita akan berbagi ?, disitulah masalahnya. Berbagi hanya dengan satu atau dua orang yang kita kenal – membuat jadwal kita tidak fleksibel dan harus bisa saling berkorban menyesuaikan. Berbagi dengan orang-orang yang tidak kenal bisa berbahaya dan menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Maka teknologi yang kami perkenalkan adalah kombinasi untuk berbagi perjalanan, dengan orang-orang yang pas searah dengan perjalanan Anda pada jam yang kurang lebih sama dan orang-orang yang bisa Anda kenali jati dirinya lebih dahulu. Untuk sementara aplikasi ini tersedia bagi Anda yang menggunakan samartphone Android dan Blackberry. Solusi lain dengan iPhone, mobile web dlsb. insyaAllah akan kami susulkan.

Cara kerja berbagi ini dapat Anda ikuti melalui skema dibawah :

Cara Kerja O-JEX Ride Sharing

Pertama Anda mencari orang yang searah perjalanan Anda dengan jam yang kurang lebih sama. Orang yang searah dengan perjalanan Anda ini bisa pengemudi (bila Anda hendak menumpang) atau penumpang ( bila Anda pengemudi). Setelah menemukannya, Anda bisa cek profile yang berangkutan. Bila Anda comfortable, maka Anda bisa membuat perjalanan yang searah dengan waktu yang relatif bersamaan. Anda bisa berkomunikasi dengan orang tersebut lewat aplikasi yang sama – dan mulailah Anda berbagi untuk satu perjalanan ini. Setelah sekali menggunakannya, insyaAllah Anda akan familiar dengan system berbagi yang kami sebut O-JEX Ride Sharing ini.

Skema Pembayaran Premium Member
Berbagi ini bisa saling menggratiskan atau dengan saling berkontribusi dengan biaya tertentu. Well, mungkin Anda sungkan untuk menarik ongkos bagi orang yang menumpang mobil Anda. Ndak masalah, kami sediakan fitur premium, dimana penumpang bisa berkontribusi dengan poin untuk meringankan beban perjalanan Anda. Fitur premium ini bekerja berdasarkan prosedur seperti pada ilustrasi di samping.

Penjelasan detil cara penggunaan, cara menjadi pengguna premium dlsb. dapat Anda ituti melalui menu di system Anda (standar menu Blackberry dan Android). Di system pengaturan radius berbagi bahkan Anda bisa mendeteksi hanya orang-orang yang disekitar Anda (gedung yang sama, komplek perumahan yang sama) atau dari radius yang lebih luas – misalnya dengan orang se-Cibubur dengan radius maksimum 5 km misalnya.

Untuk radius di atas 5 km, misalnya Anda akan berbagi kendaraan pulang kampung dengan orang Jakarta yang mau bareng-bareng ke Jogja - maka inipun bisa dilakukan dengan menu search atau pencarian. Lebih detil lagi Anda dapat pelajari dari menu tur aplikasi dan tur premium – yang kami sertakan dalam aplikasi ini.

Tampilan Menu Android

Tertarik untuk menjadi orang-orang pertama yang mau berbagi ?. Silahkan download aplikasinya dari link-link dibawah ini, masing-masing beserta petunjuk instalasinya. Bila Ada kesulitan insyaAllah team teknis kami yang akan memandu Anda.

Link untuk download aplikasi O-JEX :


Cara Instalasi :

Android
1. Download file installer melalu link diatas
2. Bila download telah selesai, buka aplikasi 'File Manager' lalu buka folder 'Download' dan cari file ridesharing.apk, pilih 'Instal'
3. Ikuti langkah instalasi

Blackberry
1. Download file installer melalu link diatas
2. Tunggu hingga hasil download selesai, lalu device akan meminta di-booting ulang (reboot), langsung reboot dan tunggu hingga device menyala lagi dan aplikasi siap digunakan

Bila Anda menemukan ada masalah dalam instalasi atau penggunaannya, silahkan hubungi team support kami Big Zaman 0899 873 1849 atau melalui email : big@badr-interactive.com

Awalnya bisa jadi Anda merasa agak repot untuk menggunakannya. Tetapi coba Anda bayangkan, dengan sedikit kerepotan ini Anda bisa ikut mengatasi masalah-masalah besar yang selama ini bahkan pemerintah-pun kesulitan mengatasinya. Yaitu masalah-masalah yang terkait dengan kemacetan dan subsidi bahan bakar. Sedangkan bagi Anda sendiri reward langsung bagi Anda adalah penghematan biaya perjalanan, reward tidak langsungnya adalah semoga Allah memudahkan urusan Anda di dunia dan di akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya, selagi hamba itu menolong saudaranya.

Dengan belajar mengatasi kerepotan-kerepotan kecil seperti belajar menggunakan aplikasi semacam ini, mudah-mudahan kita terhindar dari kerepotan yang jauh lebih besar seperti status quo kemacetan, kemahalan biaya hidup dan subsidi bahan bakar yang hingga kini belum jelas solusinya. InsyaAllah. 

Oleh : Muhaimin Iqbal  
sumber : http://www.geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1248-solusi-dengan-berbagi

Jumat, 17 Mei 2013

Budidaya Tanaman Yang Penuh Berkah…

Di antara sekian banyak tanaman yang ada di dunia, ada satu jenis tanaman yang keberkahannya secara eksplisit disebutkan di Al-Qur’an yaitu pohon zaitun (QS 24:35). Selama ini kita berasumsi bahwa zaitun ini adalah tanaman negeri-negeri Arab  dan Mediterania – karena produksi terbesar zaitun dunia memang di Mediterania – yaitu Spanyol dengan luas tanam sampai 2.33 juta hektar dengan produksi sekitar 6.94 juta ton per tahun. Mungkinkah negeri kita ini menjadi produsen besar zaitun dunia ?

Kemungkinan itu tentu selalu ada, hanya yang diperlukan adalah pikiran terbuka kita untuk mau belajar, berusaha dan terus mencoba sesuatu yang berbeda – sambil tentu saja memohon pada Yang Maha Pencipta untuk memudahkan jalan kita. Hanya Dia yang bisa menumbuhkan segala jenis pepohonan itu sebagaimana firmanNya :

Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS 27:60)

Maka jelas bila Allah berkehendak – pohon zaitun-pun akan bisa tumbuh sebaik-baiknya di negeri kita ini. Ini dari tataran Ilahiahnya, sekarang bagaimana dari tataran ikhtiari manusianya ?

Pertama dari statistik pohon-pohon yang paling banyak ditanam manusia di dunia. Zaitun menduduki nomor 3 pohon terbanyak ditanam di dunia setelah kelapa dan sawit. Menariknya adalah di dua jenis pohon yang lebih banyak dari zaitun tersebut, Indonesia berada di urutan no 2 untuk kelapa (setelah Philippine)  dan nomor 1 untuk sawit (di atas Malaysia). Luas tanaman sawit Indonesia saat ini lebih dari dua kalinya luas tanaman zaitun di Spanyol – yang merupakan penghasil zaitun terbesar dunia.

Artinya dari ketersediaan lahan, mestinya sangat cukup bagi kita untuk bisa menanam zaitun secara masif dalam jumlah yang sangat besar – seperti ketika kita menanam sawit. Sama-sama penghasil minyak, tetapi yang satu (ziatun) disebut keberkahannya secara spesifik di Al-Qur’an – mengapa tidak ini yang kita pilih ?

Apakah tanaman ini cocok ditanam di tanah kita ? pertama dahulu sawit juga bukan tanaman asli kita, awalnya dibawa penjajah Belanda konon hanya 3 atau 4 benih dari Afrika Barat. Lihat kini Indonesia menjadi produsen sawit terbesar di dunia. Kedua dari sisi geografis, zaitun tumbuh terbaik di daerah-daerah subur yang beriklim panas. Kurang apa banyaknya daerah subur yang kita miliki ? dan kurang panas apa sekarang suhu rata-rata kita ?

Tetapi mengapa kita menganggap penting zaitun ini ? pertama tentu karena keberkahannya yang disebutkan di Al-Qur’an tersebut di atas. Kedua karena keberkahan tersebut juga terbukti secara ilmiah. Bila minyak sawit banyak diperdebatkan dampaknya pada kesehatan misalnya,  minyak zaitun sebaliknya begitu banyak diberitakan manfaatnya.

Dengan begitu banyaknya bukti ilmiah yang menunjang minyak zaitun ini, sejak sekitar sepuluh tahun lalu di Amerika bahkan minyak zaitun boleh dilabeli sebagai minyak kesehatan. Diantara yang terbukti secara ilmiah itu adalah menurunkan kolesterol, menurunkan resiko penyakit cardiovascular, menurunkan tekanan darah, meningkatkan keperkasaan seksual, mengurangi resiko penyakit saluran pernafasan, anticancer, antiseptic dan antimicrobial.

Dengan mengungkapkan kelebihan minyak zaitun tersebut, tidak berarti juga serta merta kita gantikan lahan-lahan sawit dengan zaitun – meskipun nantinya bisa jadi para pemilik lahan sawit akan hijrah ke zaitun dengan sendirinya bila mengetahui nilai ekonomisnya yang juga luar biasa.

Tetapi saya lebih tertarik untuk mengarahkan pohon zaitun ini sebagai tanaman rakyat, agar sebanyaknya rakyat nantinya bisa menanam dua pohon zaitun dari jenis yang berbeda di halaman rumah-rumahnya. Perlu dua jenis karena pohon zaitun memberi hasil maksimal bila bisa terjadi polinasi dari dua jenis yang berbeda, disamping juga meminimasi penjalaran penyakit.

Pohon zaitun bisa dibudi dayakan-oleh rakyat karena bahkan untuk mengolah sampai menjadi minyakpun tidak harus membutuhkan industri. Dengan peralatan dapur yang seadanya, Anda bisa membuat minyak zaitun terbaik Anda – yaitu yang disebut EVOO (Extra Virgin Olive Oil).  Gambar di atas adalah minyak zaitun yang saya buat dengan peralatan dapur istri saya semalam.

Saya membayangkan suatu saat rakyat negeri ini tidak perlu pusing oleh mahalnya minyak goreng, kelangkaan minyak tanah dlsb. Semua bisa diproduksi sendiri dari halaman rumahnya. Memang perlu waktu untuk sampai ke sana, tetapi kalau kita mulai sekarang – insyaallah generasi anak cucu kita akan bisa mandiri dari sisi minyak yang sehat ini.

Suatu saat kita akan bisa makan goreng-gorengan yang murah, enak dan sehat karena minyaknya kita buat sendiri dari jenis minyak yang terbukti aman dan bahkan menunjang kesehatan tersebut.

Kandungan lemak buah zaitun sekitar 15.3 % , jadi cukup tinggi rendemen setiap buahnya yang bisa menjadi minyak. Produktifitas hasil buah zaitun per pohon juga bisa sangat tinggi. Ketika di awal masa berbuah mulai dari sekitar 10 kg/ pohon ; ketika pohon terus membesar hasilnya untuk jenis zaitun tertentu bisa mencapai 1 ton/ pohon.

Bentuk keberkahan lain dari phon zaitun adalah usianya yang bisa sangat panjang, salah satu pohon zaitun di Athena dimana Plato dahulu bernaung untuk mendirikan Plato Academy-nya – konon hingga kini pohon tersebut masih hidup – berarti 2400-an tahun sudah usianya.

Lantas bagaimana kita bisa mulai menanam pohon keberkahan yang usianya bisa sampai ribuan tahun ini ? Mulai dari yang kita bisa, mulai dari yang kita ada.

Setelah tulisan Kebunku Kebun Al-Qur’an yang semula saya gunakan untuk mempromosikan kurma, begitu banyak dukungan yang melengkapinya. Tidak terbatas pada knowledge tetapi juga benih dan bahkan pelatihannya untuk membangun skills yang dibutuhkan. Jadi selain kurma, untuk anggur kini kami juga sudah memiliki jalur perolehan benih dan pelatihannya untuk membangun ketrampilan berkebun anggur.

Benih Zaitun
Untuk zaitun sendiri, ada sahabat saya yang tidak sengaja menyimpan zaitun terbaik yang dibawanya langsung dari tanah Syam – yang secara spesifik disebut keberkahannya dalam ayat Al-Qur’an tersebut di atas. Dari buah segar zaitun yang dibawa langsung dari negeri Syam oleh tangan pertama inilah nantinya mudah-mudahan zaitun bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang subur ijo royo-royo ini.

Seperti juga sawit, bisa jadi dunia menunggu kita di negeri ini untuk memproduksi secara masal kurma, anggur dan zaitun ini – tiga jenis tanaman yang paling banyak disebut dan disandingkan di Al-Qur’an. Mengapa nunggu kita ?, karena di negeri inilah lahan-lahan subur dalam skala sangat luas itu tersedia. Di negeri inilah ratusan juta  muslim tinggal, jutaan diantaranya rajin membaca Al-Qur’an, puluhan ribu diantaranya bahkan hafal Al-Qur’an – dan diantara mereka ini pastinya banyak yang sangat menguasai tafsir ayat-ayatNya dengan sangat baik.

Bila penjajah Belanda yang tidak membaca Al-Qur’an saja bisa membuat rintisan yang kemudian menjadikan Indonesia produsen sawit terbesar di dunia ?, mengapa tidak kita untuk membuat rintisan agar kurma, anggur dan zaitun bisa diproduksi secara cukup untuk umat manusia di dunia ?

Sambil terus berusaha membenihkan biji-biji dari buah zaitun segar yang dibawa langsung dari tanah Syam tersebut, kita perlu terus berdo’a memohon pertolonganNya – karena hanya dia-lah yang sanggup menghidupkan tanaman dari biji-bijian tersebut.

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS 6:95)

InsyaAllah kami siap berbagi know-how dan skills  pada waktunya setelah eksperimen-eksperimen ini berhasil. Amin.

Oleh : Muhaimin Iqbal
sumber : http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1245-budidaya-tanaman-yang-penuh-berkah

Selasa, 14 Mei 2013

Entrepreneurship ‘Pak Ogah’…

udah lebih dari seperempat abad fenomena ‘Pak Ogah’ exist di jalan-jalan yang tidak dijaga oleh Polisi. Tikungan sempit, u-turn, jalur sempit untuk satu mobil, jalan rusak dan sejenisnya menjadi pasar bagi jasa informal yang kemudian secara umum kita mengenalnya sebagai ‘Pak Ogah’ ini. Sebagaimana ‘penjual jasa’ , mereka ada yang sukses dan ada pula yang tidak. Karena hampir setiap hari ketemu mereka ini di perjalanan dari dan ke rumah saya di Cibubur, saya bisa ‘mengamati’ siapa ‘Pak Ogah’ yang sukses dan siapa yang tidak – bagus untuk pembelajaran entrepreneurship bagi kita semua.

Jenis pertama adalah ‘Pak Ogah’ yang tidak sukses. Yang saya amati ini berada di jalan besar dua jalur dan masing-masing jalur bisa dilewati sampai empat mobil –jalan ini adalah Jalan Raya Alternatif Cibubur. Di salah satu u-turn di depan komplek kami CitraGrand, hampir sepanjang waktu u-turn ini tidak dijaga polisi, kecuali pada saat bapak Presiden kita pulang atau pergi ke rumahnya di Cikeas – yang membuat semua u-turn sepanjang perjalanannya dijaga polisi.

Inilah nampaknya salah satu pasar yang sudah di-‘kapling’ oleh sejumlah ‘Pak Ogah’ secara bergantian. Setiap ‘jam kerja’ masing-masing, umumnya ‘Pak Ogah’ yang bekerja di sini bekerja sendirian atau kalau berdua – masing-masing mengurusi satu jalur dengan tidak berkoordinasi satu sama lain.

Value Proposition 'Pak Ogah'
Mengapa saya kategorikan tidak sukses ‘Pak Ogah’ yang disini ?, lihat posisi yang diambil pada gambar  1 disamping. Dia selalu berdiri di kanan kita (pengemudi) – pas kita sedang memutar, mungkin maksudnya agar mudah menerima uang dari para pengemudi. Tetapi sangat sedikit pengemudi yang mau memberi uang ke ‘Pak Ogah’ yang mangkal di lokasi ini, mengapa ?

Pengemudi akan cenderung menengok kekiri – melihat mobil-mobil dari arah yang berlawanan, sehingga keberadaan ‘pak Ogah’ di sisi kanannya tidak memberikan value bagi si pengemudi. Jadi meskipun potensi pasarnya besar – jalan ini sangat padat bahkan cenderung macet, ‘Pak Ogah’-nya kurang bisa menangkap peluang yang ada – karena dia salah mengambil posisi sehingga tidak bisa memberikan value proposition yang berarti bagi ‘pasar’-nya.

Perhatikan bandingannya dengan ‘Pak Ogah’ lain yang bekerja secara team di terowongan bawah tol – yang menjadi jalan belakang bagi komplek kami dan komplek-komplek lain di Cibubur. Terowongan ini hanya bisa dilalui oleh satu mobil, jadi harus bergantian dari masing-masing arah – lihat di gambar 2.

Ini menjadi pasar 24 jam bagi team ‘Pak Ogah’ yang setiap ‘jam kerja’-nya minimal bertugas dua orang – masing-masing menjagai ujung terowongan. Hampir setiap mobil yang lewat terowongan ini selalu memberi uang ke ‘Pak Ogah’ di salah satu ujung terowongannya.

Mengapa para pengemudi cenderung memberikan uang ke team ‘Pak Ogah’ yang ini ?, karena mereka berhasil memberikan value bagi para pengemudi yang harus mengantri di ujung terowongan masing-masing menunggu gilirannya lewat. Tanpa keberadaan ‘Pak Ogah’ di masing-masing ujung terowongan tersebut, pasti akan terjadi masalah ketika mobil-mobil dari arah yang berlawanan bertemu di dalam terowongan. Dengan adanya team yang bekerja dengan komunikasi isyarat yang baik dari masing-masing ujung, potensi masalah tersebut dapat dihindari di jam-jam sibuk sekalipun.

Bagi team ‘Pak Ogah’ yang bekerja di terowongan ini, pasar sebenarnya tidak terlalu besar karena ini hanyalah ‘jalan belakang’ bagi komplek-komplek yang ada di daerah tersebut. Tetapi pasar yang tidak terlalu besar ini berhasil diolahnya dengan value proposition yang memang benar-benar dibutuhkan oleh ‘pasar’-nya. Mereka nampaknya juga punya team yang baik dan lengkap dengan metode berkomunikasi, berbagi hasil, berbagi jam kerja dlsb.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dua jenis ‘Pak Ogah’ ini – yaitu yang sukses dan yang tidak ?. Yang tidak sukses hanya melihat potensi pasar yang besar, tetapi tidak berhasil merumuskan value proposition yang dibutuhkan pasarnya. Dia juga tidak membangun team yang bisa merealisasikan value proposition tersebut.

Yang sukses dia tidak harus menggarap potensi pasar yang besar. Pasar yang kecil sekalipun – tetapi bila pasar ini bener-bener dilayani dengan fokus, dengan value proposition yang dapat dirasakan langsung oleh ‘pasar’nya – maka pasar yang kecil inipun bisa menghasilkan pendapatan yang besar. Yang sukses ini bekerja secara team yang efektif dalam berkomunikasi dan berbagi waktu serta hasil.

Di bisnis apapun yang (ingin) Anda terjuni, siapkan value proposition ini secara maksimal – yaitu apa yang Anda (akan) berikan ke pasar Anda yang lebih dari yang lain, yang bener-bener menjawab kebutuhan pasar atau bener-bener mengatasi problem yang mereka hadapi. Untuk merealisasikan value proposition inipun sangat bisa jadi Anda butuh team yang mampu berkomunikasi dan berbagi dengan baik. InsyaAllah Anda menjadi ‘Pak Ogah’ yang sukses dibidang Anda masing-masing. Amin.

Oleh : Muhaimin Iqbal